Pages

9.27.2009

Fauza-ku sayang........


Ku ingin berbagi sepenggal cerita ttg ponakanku (anak adik laki2ku paling bungsu) yang ditinggal pergi mamanya (menghadap ilahi).

Sosok anak laki2 mungil yg sepengetahuanku terlahir penuh dengan kesedihan. Fauza Harsyandi nama lengkapnya, dilahirkan sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya 5 juli 2007. Anak yang sering ditinggal sakit oleh mamanya. Semasa mamanya sehat, Uza (begitu panggilan kecilnya) selalu bersama mamanya. Namun dia akrab dengan siapa saja yang mengajaknya, karena tak jarang papanya suka mengajak uza bergaul dan berteman dengan siapa saja.

Saat beberapa hari menjelang lebaran, ku jeput mereka (uza dan mama/papanya), bersama ayah & makku dari sebuah rumah sakit di Kota Pinang (4-5 jam perjalanan dari kotaku bila menggunakan mobil pribadi). Mamanya uza (iparku) sedang opname disana, kami jeput mereka karena jauh dari kami dan tidak ada yg menjaganya di RS. Kalau bersama kami, setidaknya kami bisa selalu berada didekatnya setiap saat, begitulah yang kami rencanakan.

Ku tunggu di halaman RS, sampai akhirnya kulihat adikku kluar sambil mendorong istrinya diatas sebuah kursi roda. Jantungku seakan berhenti berdetak melihat keadaan iparku yang diam tak bergerak dan berbadan kurus. Sakitnya lebih parah dari sewaktu dia sakit setahun yang lalu. Yaa Allah, kuatkan kami atas cobaan-Mu ini ya Allah.. begitu doa yg spontan tersirat dlm hatiku.. Setelah berusaha berhasil membaringkan tubuh iparku di dalam mobil, ku injak gas perlahan sambil tak sanggup menahan sedih.

Tiba dirumah, mak merawatnya dengan harapan dia pulih seperti sebelumnya. Dirumah dia jg pake kursi roda. Namun ttp saja sang suami harus membopong bila dia pgn tdr dll. Uza selalu riang, dia anak yg g pernah merengek minta digendong mamanya. Seolah dia ngerti mamanya g sanggup untuk menggendongnya.

Ku ingat saat mamanya duduk tak bergerak di kursi roda, sang mama memanggil Fauza dengan suara pelan dan berat, “Uzaa, sini nak, cium mama”. Tanpa disuruh, sang anak lgsung memanjat kursi roda mamanya, bermula dari kaki mamanya, kemudian duduk dipangkuan mamanya, bersusah payah ku lihat uza berusaha untuk mencium mamanya, setelah mencium mamanya, uza merosot turun untuk bermain kembali.

Senang ku melihat anak sesayang itu ke mamanya, tp disisi lain, air mataku hampir jatuh karena melihat mama uza tak sanggup menggerakkan badannya untuk membalas ciuman, memeluk apalagi menggendong uza. Uza g pernah tau apa yg diderita sang mama, dia hanya tau bergembira, bermain bersama mbak & masnya (anak2 abgku).

Lebaran datang, semua saudara yg biasanya berkumpul bermaaf2an, kemudian dimanfaatkan utk menjenguk iparku yang sedang terbaring tak berdaya. Mak tak sanggup menahan tangis, selain saling tangis bermaafan, ternyata beliau menyimpan kesedihan yang dalam saat melihat dan mengingat nasib menantunya, nasib anaknya yg dengan sabar merawat istri yg tak berdaya.

Baru beberapa hari dirumah, mama uza harus kembali kami larikan ke rumah sakit karena sakitnya yang kian menyiksa. Uza tetap riang, dia tinggal bersama pakde-nya (abangku), disana bahkan dia tak menanyakan mamanya, dia asik bersama mbak dan masnya. Uza akan teringat mamanya saat ada yg menanyakannya. “Mamanya mana?” pasti dia langsung ingat dan mencari mamanya.

Menjelang sore hari, setelah dua hari berada di rumah sakit, uza diajak abgku menjenguk mamanya. Tapi sayang, belum sampe di rumah sakit dia dah tertidur dijalan. Sesampainya di rumah sakit, uza dibaringkan di tempat tidur bersebelahan dengan tempat tidur mamanya.

Tentang sakit mamanya uza, Dokter mengatakan dia terserang gagal ginjal akut. Dokter menyarankan cuci darah ke Medan (3-4 jam dari kotaku). Namun, melihat kondisi yg semakin kritis, kami tak memiliki banyak harapan. Kemudian dokter menyarankan untuk transfusi darah. Namun darah tak kunjung mau masuk kedalam tubuhnya. Setelah berusaha, akhirnya perawat berhasil memasukkan darah dari lengan kanannya. Sayang, baru sekitar 2 sendok makan darah berhasil mengalir, mama uza kejang. Bersamaan uza yang tadinya tertidur pulas juga tersentak, seolah2 merasakan apa yg terjadi dengan mamanya. Uza menangis..

Mulai saat mama uza kejang, air mata kami jatuh, seolah tak tega melihat sakit yg dia rasakan. Sampai kemudian mama uza tak bergerak, matanya terpejam seakan tertidur karena kelelahan. Ternyata dihadapan kami, mama uza bukan sekedar kejang seperti sebelumnya, Sabtu, 26 Sept ‘09 pukul 15.30 wib, mama uza telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ku keluar ruangan sambil menggendong uza dipelukanku, ku tak tahan melihat adikku menangisi kepergian istrinya, semua menangis.. Abangku memeluk izal (adikku), berusaha menenangkan hatinya supaya dia tetap tegar. Ku coba mengajak uza bermain agar dia tidak melihat papanya yang sedang menangis. Tapi ku juga tak sanggup menahan isak saat ku kabari keluarga lainnya.

Malam harinya, saat jenazah terbaring diruang keluarga, para takjiah sedang tahlilan, ku dengar ada yang bertanya ke uza, “mama uza mana?”. Uza yang berada didekatku langsung tersentak, kemudian berlari keruang kluarga tempat mamanya terbaring untuk melihat mamanya. Dengan polos dia menjawab “mama bobok”.. Duuuh tuhan,,.. kembali ku menangis dan memeluk uza, kasihan kau nak..

Keesokan harinya, saat jenazah selesai dimandikan dan dikafani, wajahnya dibuka, diberi waktu kepada keluarga melihat untuk terakhir kalinya. Ku dengan suara mak dan adik perempuanku berkata “uza mana?” kemudian abangku datang dengan mengendong uza mendekati jenazah. Disamping jenazah, adik perempuanku berkata ke uza,”cium mama nak, bilang ke mama, ngaji disana ya ma…” dengan polos uza mengikut dan berkata, “ngaji disana ya ma”.. ya Allah, semua orang yang berada diruangan itu tak sanggup menahan tangis melihat uza…

Sampai saat aku posting, air mataku tak sanggup kutahan.. bahkan ku selalu kangen uza saat ku g berada didekatnya..

Buat temen2 blogger, Bantu doa ya, mudah2an arwah mama uza bisa tenang, diampunkan segala dosanya, ditempatkan di tempat sebaik2nya, sesuai amal ibadahnya.. amiin. Kemudian doakan juga uza, semoga kelak dia menjadi anak yang selalu berbakti kepada orang tuanya, dan taat beribadahnya. Amiiin.

Sementara, demikian sepenggal cerita tentang uza-ku.. Terima kasih.
Wassalam..

12 comments:

Anzoen/mui said...

DIAM....AIR MATA ADK YANG MEMBERIKAN KOMENTAR MAS

azwin said...

Bang, Aku juga sedih membaca ceritanya, mudah2han mamanya uza mendapatkan tempat yang paling baik di sisinya, Amiin.

ina said...

gag tau muzti komment apa,... cmn berusaha ku coba hapus air mataku,....

Uza yg tabah yah,... semoga Uza jadi anak yg selalu berbakti untuk orang tuanya, dan selalu mendoakan mereka,...

turut berduka bang,... semoga Mama Uza diberi t4 terbaik disana,...

di@n4 said...

duka yg sama sudah aq rasakan dua tahun lalu, tepat satu minggu setelah idul fitri anak ku tercinta dipanggil Allah untuk menghadap Nya.. Uza... tabah ya Nak... Bude selalu mendoakanmu...

bunda said...

Innalillahi wa inna ilaihi raji'uun
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57). Semua kita ini yang hidup di muka bumi ditakdirkan untuk mati, tanpa kecuali.
Kelak, Insyallah, kita pun akan menyusul. Allahu a'lam.
semoga almarhumah mendapat tempat yang layak disisiNya, seluruh keluarga yang ditinggalkan senantiasa tabah, tawakal dan ikhlas menerima ujianNya. semoga kelak Uza besar menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada orangtuanya. amin.
salam dari bunda

harry seenthing said...

aku juga turut berduka ya....semoga yang ditinggal diberi kekuatan dan juga semoga tuhan memberikan tempat yang terbaik untuknya. amien

wandhe said...

wah kirain siapa , hehehhe

Sadewa said...

Saya turut berduka cita semoga bagi yang ditinggalkan diberi ketabahan amin

!Rchymera! said...

Turut berduka cita sob semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan...^-^

Admin said...

@all: trim's all, kalian smua mmg tmnq yg sangat baik.... Amiiien, smoga doa kalian jg didengar olh-Nya.. ada hidup pasti ada mati...

nietha said...

turut berduka cita ya bang.. maaf baru sempat mampir..

Anonymous said...

bang jooool, sedih kali ceritanya.
;'(



diaz

Post a Comment